AMBON,MRNews.com,- Group Kerukunan Keluarga Amalatu (KEKAL) Ambon, diundang untuk Makan Sahur bersama Sekertaris Kota (Sekkot) Ambon Agus Ririmasse dan isteri yang juga Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Ambon di Rumah Dinas Kawasan Karang Panjang, Senin (17/4) dini hari tadi.
Sebelum makan sahur bersama, para pemuda-pemudi asal Negeri Latu Kecamatan Amalatu, Kabupaten SBB, yang merantau di Kota Ambon itu, diperkenankan untuk mendendangkan lagu sahur.
Sebagai seorang yang beragama Kristen, Sekkot Ambon mengundang KEKAL Ambon yang notabene pemuda dan mahasiswa untuk makan sahur bersama dan mengijinkan dendang lagu sahur di rumah dinas bukan tanpa alasan jelas.
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan nilai toleransi dan mewujudkannya secara nyata. Sebab sebagaimana diketahui Maluku merupakan Laboratorium Perdamaian Dunia dan Kota Ambon menjadi Barometernya.
Bahkan ibukota Maluku ini beberapa tahun lalu pernah dinobatkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) sebagai salah satu Kota dengan tingkat toleransi umat beragama paling tinggi di Indonesia.
Selain itu, makan sahur bersama serta diijinkan menyanyikan lagu sahur, agar para pegawai yang bekerja di rumah dinas khususnya yang beragama muslim merasakan nuansa Ramadhan.
Mengingat, mulai dari Satuan Polisi Pamong Pradja (Satpol-PP), Asisten Rumah Tangga yang bertugas di kediaman hingga ajudan pribadi Sekkot ada yang beragama Muslim.
Karena tugas dan tanggungjawab, mereka jarang merasakan nuansa Ramadhan seperti melihat atau mendengarkan orang membangunkan sahur dengan lagu-lagu kreatif seperti Siti Fatimah.
“Terima kasih bapak Sekkot Ambon dan ibu atas jamuan makan sahur bersama. Terima kasih sudah melibatkan pemuda-pemudi Latu di dalam menunjukan indahnya toleransi yang begitu tinggi untuk katong semua di Kota Ambon Manise ini,” tandas
Koordinator dendang Sahur KEKAL Ambon, Trisno Wakanno.
Sekkot Ambon Agus Ririmasse memberi apresiasi bagi pemuda-pemudi Latu di Ambon yang menggunakan cara positif untuk menunjukkan seberapa tingginya tingkat toleransi di Kota ini, yang tidak hanya sebatas ucapan tapi dibuktikan dengan tindakan.
“Ini cara kreatif dan patut dicontohi pemuda-pemudi Kota Ambon lainnya. Dengan begitu, tentu mengurangi hal-hal negatif dilakukan para pemuda dan membuat visi Ambon harmonis, sejahtera dan religius lewat penguatan nilai toleransi dan harmonisasi hidup terwujud,” jelas Ririmasse.
Dirinya berharap, apa yang dilakukan Pemuda-pemudi Latu Kota Ambon ini tidak berhenti di bulan suci Ramadhan tahun ini saja, tapi harus dijaga, merawat menjadi tradisi setiap Ramadhan. Sebab banyak nilai-nilai positifnya.
“Dengan begitu alasan orang dari luar berkunjung dan jadi rujukan belajar ke Ambon salah satunya karena kuatnya nilai toleransi antar umat beragama itu sangatlah tepat,” kunci Ririmasse. (MR-02)











Comment