AMBON,MRNews.com,- Presiden RI Joko Widodo mengaku, jikalau ada yang menganggap bahwa membangun infrastruktur itu tidak penting, mungkin karena mereka tidak tahu orang-orang di Papua terbiasa menanak nasi di pinggir jalan.
“Kok bisa? Ya, karena mereka menghabiskan dua atau tiga hari untuk perjalanan sejauh 150 kilometer saja. Itulah mengapa Papua terus dipacu pembangunan infrastrukturnya,” tandas Presiden saat membuka Kongres HMI XXX di Unpatti Ambon, Rabu (14/2).
Presiden mengungkapkan, pemerintah membangun jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara, waduk, pembangkit listrik sebagai prasyarat pembangunan yang berkelanjutan, untuk menopang ekonomi nasional Indonesia, serta bisa berkompetisi dengan negara-negara yang lain.
“Apalagi, negara kita begitu besar, panjang dan luas sekali. Terbang lurus Banda Aceh sampai Wamena di Papua saja memakan waktu 9 jam 15 menit penerbangan. Itu sama dengan dari London, Inggris ke Istambul, Turki yang di antaranya terdapat beberapa negara lagi. Ada lebih 17.000 pulau dan 714 suku bangsa di dalamnya,” tambah Presiden.
Di hadapan peserta Kongres, Presiden menampilkan potret kehidupan mengenai bagaimana saudara-saudara di Papua amat membutuhkan infrastruktur yang sama baiknya dengan yang dinikmati sebagian besar rakyat di Pulau Jawa sejak lama.
“Saya berikan sebuah gambaran jalan di Papua. Berjalan ratusan kilometer harus menempuh dua sampai tiga hari. Kalau ada orang menyampaikan infrastruktur tidak penting, lihatlah kondisi ini,” tutur Jokowi sambil memperlihatkan gambaran Papua lewat layar.
Keadilan sosial, menurut Presiden, juga harus menyentuh anak-anak bangsa yang kelak akan meneruskan perjuangan bangsa. Melalui sejumlah program sosial, pemerintah terus berupaya mewujudkan keadilan sosial dan mengurangi kesenjangan.
“Kita ingin membangun Indonesia yang lebih adil. Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjamin semua anak bisa bersekolah, sudah kita berikan kepada 18 juta anak. Kartu Indonesia Sehat (KIS) menjamin semua warga untuk mengakses layanan kesehatan, sudah diberikan kepada 92 juta warga,” ungkapnya.
Karenanya bagi Jokowi, infrastrukturlah yang mempersatukan Indonesia. Sebab, pembangunan infrastruktur adalah layanan dasar untuk rasa keadilan.
Di tingkat negara, tambah Jokowi pemerintah juga sedang melakukan upaya peningkatan kualitas dan daya saing. Pembangunan infrastruktur yang merata merupakan salah satu bagian dari upaya itu. Apalagi dengan melihat fakta bahwa infrastruktur di wilayah Timur Indonesia masih jauh tertinggal.
“Prioritas pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, waduk, dan pembangkit listrik adalah sebuah langkah awal yang dibutuhkan untuk menopang ekonomi nasional kita agar bisa berkompetisi dengan negara lain,” tegas Presiden.
Namun, yang perlu digarisbawahi, menurut Presiden pembangunan infrastruktur tak hanya selalu soal perekonomian semata. Pembangunan infrastruktur yang merata seperti dilakukan pemerintah saat ini merupakan perwujudan nyata dari sila kelima Pancasila, yakni untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Gubernur Maluku Said Assagaff, Tokoh Senior KAHMI Akbar Tanjung dan Ketua Umum Pengurus Besar HMI Mulyadi Tamsir. Juga tampak hadir, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD Oesman Sapta Odang dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. (MR-05)











Comment