AMBON,MRNews.com,- Tindakan Hendrik Djauhari Oratmangun dan Jamil Divinubun, kader partai Golkar yang mengatasnamakan diri sebagai fungsionaris DPD Partai Golkar Provinsi Maluku periode 2015-2020 dengan menggelar rapat “bodong” atau ilegal di hotel Amaris, Selasa (30/7/19), yang turut dihadiri beberapa pimpinan DPD II Kabupaten/Kota berkaitan dengan kepentingan suksesi calon ketua umum (Ketum) Golkar, dikecam Ketua Bappilu DPD Golkar Maluku, Haerudin Tuarita.
Tuarita yang juga Wakil Ketua DPD Golkar Maluku ini lantas memperingatkan keras Djauhari dan Divinubun agar tidak melakukan pembohongan publik dan sembarangan mencatut jabatan yang faktanya tidak jelas untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Bahwa soal dukung mendukung adalah dinamika yang biasa di internal partai Golkar dalam rangka pemilihan ketua umum. Tetapi jika sudah melakukan pembohongan kepada diri sendiri dan publik tentu itu yang patut disesalkan dan perlu diingatkan.
“Perlu kami ingatkan sahabat kami saudara Djauhari Oratmangun dan Jamil Divinubun yang melaksanakan rapat mengatasnamakan DPD PG Maluku bersama beberapa teman pimpinan DPD Kabupaten/Kota di hotel Amaris guna memuluskan ambisius mereka mendukung salah satu bakal calon ketua umum PG. Kami tidak menerima dan sangat disesalkan. Sebab mereka berdua selalu mengatasnamakan diri fungsionaris DPD PG Maluku, padahal namanya tidak tertera di SK yang dikeluarkan DPP PG periode 2015-2020,” ujar Tuarita kepada media ini, Selasa (30/7).
Tak hanya itu, menurut Tuarita, baik Djauhari maupun Divinubun selalu mencatut nama dalam setiap komentar di media cetak maupun online mengatasnamakan diri fungsionaris DPD PG Maluku. Sebaliknya, jika mengatasnamakan kader atau simpatisan partai tidak masalah buat fungsionaris DPD PG Maluku yang lain.
Dirinya kembali mengingatkan bahwa pengurus DPD PG Maluku bisa saja membawa keduanya dalam ranah hukum, namun hal itu tentu tidak diinginkan sebab masih menggunakan rasio dan pendekatan persuasif selaku sesama kader beringin. Karena itu, diminta secara sehat dan terbuka serta jujur dalam era demokrasi saat ini agar masyarakat juga bisa mendapat pembelajaran dari proses atau dinamika pemilihan ketua umum PG teristimewa bagi keluarga besar partai Golkar Maluku.
“Mungkin mereka berdua lagi sakit atau orang Ambon bilang mangael dalam ruang-ruang yang sempit demi ambisius mereka berdua yang sudah tidak sabar lagi untuk memimpin di PG Maluku. Kita bersama ingin yang terbaik untuk partai Golkar tapi cara-cara yang kalian (Djauhari dan Jamil) pakai itu tidak baik dan akan merugikan partai Golkar kedepannya. Semoga mereka berdua bisa menyadari bahwa yang dilakukan itu tidak baik dan keliru. Kami minta jangan berlebihan,” tegas Tuarita. (MR-02)











Comment