AMBON,MRNews.com,- Usaha Mikro Kecil (UMK) di Maluku telah bertumbuh dengan banyak memproduksi pangan olahan dan obat tradisional dengan bahan baku lokal yang khas.
Hal ini pun memantik ketertarikan dan komitmen Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Ambon untuk mendampingi para pelaku usaha dan UMK pangan lokal di Maluku guna membangun kejayaan baru jalur rempah Indonesia.
Pendampingan bakal dilakukan BPOM bagi 50 pelaku usaha jamu gendong dan 20 pelaku UMK pangan olahan khususnya olahan rempah dan sagu.
Bahkan para pelaku itu pun dihadirkan untuk memamerkan produk pangan lokal dan obat tradisional produksi mereka sendiri yang dikunjungi langsung Kepala BPOM RI, Penny Lukito dan Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku Sadali Ie di Hotel Santika Premiere Ambon, Jum’at (10/2).
Lukito menyebut, peningkatan permintaan maupun minat masyarakat terhadap jamu serta pangan olahan berbahan rempah dan sagu harus dikawal dengan memastikan pelaku usaha memenuhi persyaratan keamanan keamanan manfaat/khasiat/gizi dan mutu produk.
“Ini bagian dari tugas dan fungsinya BPOM. Kami sangat mendukung bertambah banyaknya jumlah UMKM. Apalagi Maluku khususnya Banda itu titik awal dimulainya jalur kejayaan rempah di masa lalu. Maka sekarang kita harus berkolaborasi bersama untuk membangun kembali kejayaan rempah dengan keanekaragaman hayati kita yang cukup banyak,” terangnya.
Dalam mendukung pengembangan UMK, BPOM akui Lukito, telah menggulirkan berbagai program pendampingan, asistensi serta kemudahan registrasi baik berupa keringanan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan bantuan pengujian maupun fasilitas atau inovasi pangan olahan dan jamu.
Selain itu BPOM juga mengawal program pendampingan UMK pangan olahan dan obat tradisional asal rempah dan sagu di Maluku dengan dukungan industri pangan olahan dan industri obat tradisional sebagai Orang Tua Angkat (OTA).
“Terdapat 7 OTA yang memberi bantuan alat produksi bagi UMK pangan olahan di Maluku khususnya di Ambon dan Banda. Serta terdapat tiga OTA obat tradisional yang memberi alat bantuan ke pelaku usaha jamu gendong yaitu PT Bintang Toedjoe, PT Indofarma dan PT Kimia Farma,” ulasnya.

Pendampingan bagi pelaku usaha jamu gendong tambahnya, dilakukan melalui stikerisasi salah satu contoh minuman jamu khas Ambon yaitu Guraka Kenari, berbahan baku jahe diberi taburan kenari. Ini untuk menambah nilai dan kepercayaan masyarakat bagi pelaku usaha yang mampu menghasilkan jamu gendong yang aman, bermanfaat dan bermutu.
“Kedepan diharapkan akan makin banyak usaha jamu gendong yang telah distikerisasi sehingga meningkatkan daya saing jamu dan nilai ekonominya,” kunci Lukito yang juga turut saksikan penandatanganan komitmen OTA bagi UMK pangan dan obat tradisional di Maluku.
Lukito di kesempatan itu juga menyerahkan berupa nomor izin edar untuk produk obat tradisional dan pangan olahan, sertifikat cara pembuatan obat tradisional yang baik tahap 1 dan izin penerapan cara produksi pangan olahan yang baik serta sertifikat sistem manajemen keamanan pangan olahan kepada pelaku UMK di Maluku.
“Penyerahan berbagai sertifikat serta rangkaian kegiatan pendampingan UMK termasuk penggalangan komitmen pendampingan OTA pangan olahan dan jamu ini diharapkan dapat memotivasi para pelaku usaha untuk berinovasi dan konsisten memproduksi produk olahan rempah berkualitas,” pungkasnya. (MR-02)









Comment