by

Ambon Potensial Tsunami, Perlu Adopsi Upaya Mitigasi ke Tata Ruang Kota

AMBON,MRNews.com,- Tim Periset tsunami dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala-Banda Aceh telah membuat peta bahaya tsunami di kota Ambon.

Ketua tim Riset Prof. Dr. Syamsidik katakan, berdasarkan skenario maksimum, yang perlu perhatian serius ada beberapa daerah atau titik, diantaranya desa Passo, kedua sisi jembatan merah putih (JMP) termasuk desa Galala-Hative Kecil dan sebagian dari kecamatan Nusaniwe.

“Itu wilayah-wilayah yang perlu perhatian untuk upaya mitigasi bencana kedepan,” tandasnya disela-sela focus group discussion (FGD) upaya mitigasi bencana tsunami untuk Kota yang dikaitkan dengan penataan ruang di The City Hotel, Rabu (27/9).

Selain itu karena perkembangan kota, pihaknya kata Syamsidik sarankan juga supaya upaya mitigasi itu bisa diadopsi atau dimasukkan ke dalam peta tata ruang baru Kota Ambon yang sedang disusun saat ini.

Terutama menurutnya di Passo yang konturnya datar, sehingga perlu perhatian serius pemerintah kota dan provinsi terutama penyediaan jalur evakuasi dan gedung evakuasi.

“Sebab disana tidak sama dengan tempat lain yang bukitnya cukup dekat. Yang bisa dijangkau dalam waktu 10 atau 15 menit dengan evakuasi horizontal. Perlu perhatian serius dalam hal penyiapan jalur dan gedung evakuasi,” akunya.

Pihaknya tambah Syamsidik mengapresiasi berbagai upaya yang sudah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon seperti penyediaan rambu-rambu tsunami, pelatihan di tingkat masyarakat, pembentukan desa tangguh bencana dan pembuatan tsunami ready.

“Itu semua sudah bagus. Cuma memang kedepan kami sarankan adanya perhatian, terutama di Passo. Karena disana sekarang jadi wilayah yang direkomendasikan untuk membangun kantor-kantor pemerintahan. Perlu perhatian serius karena wilayah disana cukup datar,” sarannya.

Akan tetapi tambahnya, seiring pertumbuhan ekonomi nanti, Syamsidik yakin, Kota Ambon makin lama makin besar, maka perlu adanya strategi yang komprehensif sehingga resiko terjadinya tsunami bisa diturunkan.

Meresponsnya, Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena katakan, bencana selalu ada, tidak bisa dihindari. Namun pentingnya mitigasi atau upaya mengurangi resiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana selalu jadi atensi.

“Pengalaman kejadian tsunami yang pernah terjadi di kota Ambon, salah satunya di desa Galala tahun 1950 lalu, memberi pelajaran dan masifkan mitigasi, perlu upaya serius. Paling penting lakukan pemetaan terhadap lokasi rawan tsunami,” jelasnya.

Kota Ambon yang dikelilingi lautan kecil, bebas dan lebih banyak pemukiman warga di pesisir, maka lewat kerjasama dengan BMKG, kata Wattimena, telah jadikan desa Galala-Hative Kecil sebagai desa tangguh bencana dan desa tsunami ready.

Sejalan dengan itu, FGD ini menurutnya, mau ingatkan bahwa mitigasi yang dilakukan tidak bisa sendiri, perlu libatkan multipihak (akademisi, NGO, pers dan kelompok masyarakat), sebagai upaya sadar dan bertanggungjawab membangun ketahanan masyarakat agar tangguh hadapi bencana tsunami khususnya.

“Minimal lewat hasil riset TDMRC Universitas Syiah Kuala, bisa dipetakan daerah mana yang rawan tsunami dan bagaimana langkah mitigasi. Sehingga minimal bisa kurangi resiko bencana. Kerja kolaborasi harus terintegrasi. Termasuk siapkan infrastruktur yang memadai agar tahan tsunami,” pungkasnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed