by

Forki Maluku Tak Pernah Kuasakan SP Kawal YA

AMBON,MRNews.Com.-Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Karate-do Indonesia Maluku mengonfirmasikan pihaknya tidak pernah memberikan surat kuasa atau surat tugas khusus kepada Simpres Pasanea (SP) mengawal Yopie Angwarmasse (YA) selama proses mediasi dilakukan Forki Maluku mendamaikan keluarga YA dan keluarga IS.

IS,24, adalah korban kebejatan YA setelah dihamili lima bulan tanpa keberanian YA mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan keluarga besar IS. ’’Secara orgnisatoris, Forki Maluku tidak pernah memberikan surat tugas atau surat kuasa khusus kepada saudara Simpres Pasanea untuk mengawal saudara Yopie Angwarmasse selama persoalan ini dimediasi Forki Maluku,’’ tegas Sekretaris Umum Pengprov Forki Maluku, Herman Tibalia ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (13/11).

Herman menandaskan pihaknya tidak memiliki hubungan kerja sama secara organisatoris dengan SP selama proses mediasi perkara amoral yang melibatkan YA diambil Forki Maluku. ’’Apa kapasitas Simpres (Pasanea), sehingga kita harus memberikan surat kuasa bagi dia untuk mengawal saudara Yopie (Angwarmasse),’’ tanya Herman.

Sebagaimana diberitakan selama ini, YA sengaja meminta bantuan SP, salah satu bintara Pomdam Pattimura dan OW, salah satu bintara polisi, menjadi pengawal pribadi YA agar dirinya kelak tidak dihakimi kakak-kakak kandung IS, yang merupakan anggota TNI-AD, setelah adik mereka dihamili YA selaku Ketua KSH Inkado Maluku. Akan tetapi, karena berperilaku seperti ’’kerbau dicucu hidung’’, kata orang Ambon, SP dan juga istri SP, MT, sering dikait-kaitkan dalam pemberitaan miring menyangkut kebejatan YA selama ini.

Kabar teranyar menyebutkan YA dan istrinya, CJP, mengutus OW, menemui orangtua IS untuk mengatakan ketidakmampuan YA mempertanggungjawabkan kebejatannya terhadap IS dengan alasan diri YA telah malu akibat namanya terus diberitakan di sejumlah media massa cetak dan media online lokal selama kurun dua bulan terakhir. Menurut OW, keluarga YA telah menggelar rapat dan hasilnya tidak akan mempertanggungjawabkan perbuatan YA. Informasi yang diperoleh selama ini keluarga YA belum menggelar rapat bersama untuk menyiapkan strategi adat sebelum menemui keluarga IS guna mencari solusi penyelesaian perbuatan bejat YA. Keluarga IS mencurigai penolakan tanggung jawab hanya hasil rapat YA dan istrinya.  ’’Siapa suruh mau berbuat bejat, tetapi tidak mau bertanggung jawab. Orang bilang (YA) biadab tapi pengecut dan kampungan,’’ tuding Dony, salah satu keluarga IS. (MR-03).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed