by

20 Sanggar Ikut Pagelaran Budaya Maluku

AMBON,MRNews.com,- Sebanyak 20 kelompok seni, budaya dan sanggar dari Kota Ambon dan luar Ambon mengikuti pagelaran budaya daerah Maluku yang digagas oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Maluku bertema semarak Indonesiana di Kota Ambon, kita wujudkan Ambon sebagai kota musik dunia tahun 2019 yang berlangsung di Baileo Oikumene, Kamis (8/11/18).

Kepala BPNB Maluku, Rusli Manorek menyebutkan, pagelaran budaya daerah Maluku malam ini merupakan rangkaian program Indonesiana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI yang memilih Kota Ambon salah satu dari lima kota yang dibantu mengembangkan budaya. Selain itu, sebelumnya telah pula dilakukan festival musik Hawaiian di tempat sama, Rabu (7/11) dan pameran budaya di Tribun Lapangan Merdeka yang akan berakhir besok, Jumat (9/11).

“Kelompok seni, budaya daerah dan sanggar yang ada di kota Ambon baik tampil malam ini maupun yang sementara aktivitas, harus diberi ruang rutin seperti ini guna terus pengembangan seni, budaya dan kreatifitasnya, sehingga budaya Maluku tetap terjaga dan lestari untuk hari ini maupun masa depan. Kalau tidak, maka akan tergerus arus budaya luar dan BPNB konsisten memastikan seni dan budaya Maluku tetap lestari. Puncak dari Indonesiana adalah karnaval budaya pada 15 November nanti dengan mengikut sertakan 32 paguyuban seni dan budaya sekaligus upaya mendukung Ambon sebagai kota musik dunia oleh UNESCO 2019,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Kota Ambon, A.G Latuheru mewakili Walikota dalam arahan pembukaan pagelaran budaya menjelaskan, pagelaran ini tentu memberikan ruang bagi pengembangan kebudayaan lokal di daerah Maluku dan membangun mentalitas bangsa sehingga menjadi landasan pijak bagi pembentukan jati diri dan karakter bangsa.

“Atas nama pemerintah dan masyarakat kota Ambon, saya menyambut dengan gembira dan sukacita serta memberikan apresiasi atas terlaksananya pagelaran budaya Maluku oleh BPNB, demi menunjang pembangunan kota Ambon yg berkualitas, bermoral dan berbudaya. Karena lewat kegiatan ini, diharapkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda milenial dan pasca milenial tentang kesenian lokal di Kota Ambon semakin meningkat sebagai filter dalam meredam dampak negatif modernisasi dan globalisasi yang perlahan-lahan mengikis jati diri kita sebagai orang Maluku,” ungkapnya.

Pasca ini tambah Latuheru, kolaborasi untuk pengembangan kreatifitas seni dan budaya Maluku harus berjalan terus, tak cukup sampai disini, terutama demi mencapai niat dan tujuan wujudkan Ambon sebagai kota musik dunia yang mungkin tidak terlalu lama. Tidak sebatas BPNB dan AMO, tapi kolaborasi semua pihak sangat penting, bersama swasta dan organisasi apapun.

“Saya akan sampaikan ke pa Walikota untuk terus mendorong dinas pariwisata dan kebudayaan untuk intens menyediakan ruang dan kesempatan bagi semua kelompok seni, budaya dan sanggar tampil dalam momentum pemerintahan,  tidak sanggar itu-itu saja. Sehingga semua berkembang dan berkreasi bersama sekaligus upaya perhatian pemerintah,” demikian Latuheru.

Hadir dalam kesempatan itu, kepala Balai Arkeologi Maluku dan Direktur AMO, Ronny Loppies. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed