by

Penyelesaian Konflik Maluku Perlu Dimasukan Dalam KPLN

-Maluku-1,447 views

AMBON,MRNews.com,- Pengalaman penyelesaian konflik Maluku dalam waktu yang relatif cepat dan singkat dapat dijadikan bagian dari kebijakan politik luar negeri (KPLN) untuk membantu konflik yang terjadi di belahan dunia saat ini. Sebut saja, konflik yang melanda Syiria, Afganistan, Afrika, Somalia, Yaman dan Ruanda. Bahkan diharapkan bisa menjadi sebuah kebijakan internasional untuk penyelesaiannya.

“Kita bisa melihat bahwa konflik yang begitu mencekam pada waktu itu, dalam waktu relatif cepat bisa diselesaikan. Pemerintah perlu mengangkat pelajaran dari Maluku sebagai bagian KPLN untuk membantu berbagai masyarakat di belahan dunia, dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi,” ujar Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) RI, Yahya Cholil Staquf saat pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Maluku, tokoh-tokoh agama dan pimpinan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang dipimpin Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua untuk menjaring masukan terkait kondisi Maluku dan kesiapan jelang pemilihan umum, Kamis (10/1/2019) di ruang rapat Lantai II Kantor Gubernur Maluku.

Hal ini, sebut Cholil, karena masyarakat Maluku sendiri, memiliki budaya yang sudah mengakar untuk membangun harmoni serta memiliki naluri mempertahankan harmoni dalam masyarakatnya. “Sebagian suku-suku di Indonesia jarang sekali dalam satu suku ada keragaman agama. Di Indonesia, Batak agak mirip dengan Maluku, dalam satu marga ada keragaman agama dan ini tidak mungkin ada di Eropa, Afrika, Timur Tengah atau tempat lain. Ini energi harmoni yang tidak dimiliki di tempat lain,” ungkap Cholil.

Dikatakan, cara penyelesaian konflik di Maluku bisa jadi pelajaran sangat berharga. Pengalaman inilah yang dapat dijadikan bagian kebijakan internasional untuk ikut berperan mengupayakan perdamaian dunia diberbagai wilayah.

“Ketika saya ke Yeruslem, Israel beberapa waktu lalu, untuk mengikuti diskusi dengan akademisi dan ahli, saya mengangkat tentang pengalaman Maluku dalam menyelesaikan konflik. Saya sampaikan bagaimana, Maluku mampu melakukan resolusi konflik dari masalah yang terjadi. Sambutannya luar biasa, tanda semua orang tertarik dengan pelajaran yang bisa diambil dari Maluku. Jadi pak Wagub, jangan terkejut jika, dalam waktu tidak lama mungkin ada banyak perhatian internasional kepada Maluku, karena dunia ini sedang butuh belajar dari Maluku ini,” tukasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua mengatakan, stabilitas keamanan di Maluku sangat terjamin. Bahkan, sejak konflik hingga kini, sudah 15 tahun hidup aman dan tentram, karena kerukungan hidup umat beragama, toleransi orang beragama di Maluku sudah mengakar dan menjadi tradisi sejak dulu.

“Kalau bapak lihat di Jawa, kalau lebaran, belum tentu orang Kristen datang berkunjung ke saudara Muslim. Tapi di Maluku, mereka saling bersilaturahmi. Sebaliknya jika Natal akan seperti itu juga akan saling berkunjung. Bukan hanya Islam atau Kristen tetapi semua datang berkunjung, bersilaturahmi, mengucapkan selamat hari raya,” ucapnya.

Sebaliknya juga, sebut Sahuburua, hal unik terlihat pada saat perayaan hari raya masing-masing agama, terlihat penjagaan rumah-rumah ibadah. “Kalau kita ada Gereja Natal, yang menjaga keamanan itu saudara-saudara kita yang bukan Kristiani. Jadi yah Islam, Hindu dan Budha. Begitupula waktu Lebaran saat shalat Idul Fitri, umat yang bukan Islam itu datang jaga masjid-masjid. Sehingga saya ingin katakan, sampai saat ini hubungan kita sangat baik,” tandas Sahuburua. (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed