by

SKK Migas Persembahkan Program Peduli Pendidikan; Investasi Masa Depan Bagi Mahasiswa Seram Timur

AMBON,MRNews.com,- Banyak cara dilakukan untuk menunjukan kebermanfaatan. Tak selalu berupa nilai uang, namun perhatian dan kepedulian yang melintasi ruang dan waktu.

Bagi sebagian orang, kehadiran industri minyak dan gas (migas) mungkin bisa jadi bencana. Mulai dari beribu hektar tanah yang harus dijual demi pembangunan kilang, keraguan akan adanya masyarakat lokal direkrut sebagai pekerja hingga kurang adanya perhatian terhadap kelangsungan hidup bagi masyarakat yang terkena dampak.

Tapi tidak dengan masyarakat di Bula. Sebuah kota kecil dan kecamatan di pantai timur laut pulau Seram, yang merupakan ibukota kabupaten Seram Bagian Timur-Provinsi Maluku.

Kandungan minyak dan gas yang ditemukan didalam tanah dan dikembangkan sejak tahun 1896, namun pengelolaannya baru dilakukan 1 abad kemudian tepat tahun 1999 bak surga “tersembunyi” bagi mereka. Asa terajut. Generasi ke generasi tentu menerima manfaatnya.

Sejak 24 tahun silam, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) memberi kepercayaan bagi Karlez Petroleum (Seram) Ltd, Citic Seram (Energy) Ltd memegang kendali pengelolaan Blok Bula bahkan hingga 16 tahun kedepan atau 2039. Tak jua mencari untung, sebab kesejahteraan masyarakat terdampak eksplorasi Blok Bula juga jadi perhatian.

Memang, serapan tenaga kerja lokal Bula khususnya dan SBT pada umumnya hanya hitungan jari. Bukan pula karyawan tetap. Perusahaan lebih memilih datangkan dari luar Maluku, karena faktor ketrampilan bekerja di tambang Migas yang dari lokal masih minim.

Walau begitu, tertutupi dengan banyaknya program sosial dan pengembangan yang dilakukan perusahaan bagi masyarakat dekat lokasi atau terdampak beroperasinya Blok Bula. Pemuda, pelajar dan mahasiswa yang memilih merantau dengan bekerja atau berstudi di Kota Ambon, ibukota provinsi Maluku pun tak luput dari pandangan mata.

Mengusung program dukungan pendidikan, disalurkanlah bantuan rutin dari perusahaan untuk membantu asrama ikatan pemuda, pelajar, mahasiswa Bula di Kota Ambon. Meski lokasinya berpindah-pindah dari Desa Poka ke Tantui dan kini di kawasan STAIN dekat kampus IAIN, namun dukungan itu tak surut.

Bantuan diberi berupa biaya mengontrak rumah yang dijadikan asrama para perantau asal kota minyak, sapaan untuk kota Bula sejak 2001 silam. Setiap tahun alokasinya kisaran Rp 25 juta. Terkini, asrama yang ditinggali kurang lebih 15 mahasiswa/i itu ada di lorong ASPUN RT 002/RW 017 Kompleks IAIN Ambon.

Asrama itu cukup representatif bagi level mahasiswa atau pelajar. Sebab tak hanya berdekatan dengan kampus IAIN dan jalan raya, tapi juga tersedia fasilitas penunjang lain, seperti air bersih, ruang tamu hingga empat kamar tidur yang dua kamar diisi perempuan dan dua kamar lainnya milik laki-laki.

Bahkan fasilitas berupa satu set komputer dan printer pun masih awet dipakai secara bersama hingga kini untuk membuat tugas pelajaran, tugas kuliah hingga skripsi walau telah tiga kali berpindah tempat kontrakan. Dan itu merupakan bantuan dari pihak Karlez dan Citic untuk mendukung pendidikan anak-anak Bula.

“Setiap tahun perusahaan Citic biayai sewa kontrak asrama. Mulai dari lokasi di Poka, pindah ke Tantui 2021. Dan sejak 2022 kita mulai tinggal di STAIN. Fasilitas asrama cukup memadai. Semua yang tinggal mahasiswa,” cerita Ismail Rumeon, mantan Sekretaris umum ikatan pemuda, pelajar, mahasiswa Bula (IPPMB) Ambon saat ditemui di asrama, Senin (27/11) petang.

Ismail, pria yang baru lulus dari Fakultas ISIP Universitas Pattimura (Unpatti) tahun ini juga adalah saksi langsung bahkan ikut merasakan dampak bantuan peduli pendidikan dari industri migas.

Tak saja dijadikan tempatnya mahasiswa Bula yang berstudi di Ambon, namun keberadaan asrama itu pun bisa dipakai tinggal secara bersama oleh masyarakat Bula yang tidak memiliki rumah namun datang untuk berobat ke Kota Ambon. Atau untuk mengikuti hajatan wisuda.

Selain sewa kontrakan asrama, industri Migas di Bula pun sempat memberikan bantuan biaya untuk 13-14 mahasiswa Bula yang berprestasi untuk selesaikan studi sarjana (S1) di Ambon. Salah satu penerimanya ialah mantan Ketua HMI Cabang Ambon, Fauzi Marasabessy.

Tak hanya itu, program untuk membantu memfasilitasi siswa SMK Bula dan mahasiswa Politeknik Ambon, Universitas Pattimura (Unpatti), AKAMIGAS CEPU dan lainnya berupa melakukan praktek kerja lapangan turut diperhatikan.

Demikian pula kerjasama Citic dengan Unpatti selaku konsultan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat Bula dalam rangka budidaya kepiting. Pemberdayaan itu membantu masyarakat hingga kini.

Termasuk bantuan bagi penggalian dan pembuatan dua sumur yang diperuntukan bagi masyarakat di Desa Fatolo. Juga perbaikan jembatan yang merupakan akses penghubung antar satu desa di Bula.

“Allhamdulilah, sepanjang proposal masuk untuk bantuan dan pemberdayaan masyarakat Bula, perusahaan tidak pernah tolak. Selalu diakomodir. Bahkan dulu waktu bencana alam air bah menimpa desa Salak di Bula, warga harus dievakuasi ke puncak gunung, Citic ikut terlibat pembukaan lahan tinggal sementara masyarakat,” ujar Kepala Pemerintah Negeri Bula, Ismail Pattikupang by phone, Selasa (28/11) pagi.

Bantuan dan kepedulian akui Ismail dominan datang dari Citic karena kecendrungan komunikasi dan kemudahan akses. Diharapkan Karlez bisa menyamai capaian tanggungjawab sosial perusahaan yang Citic lakukan bagi masyarakat setempat.

Seyogyanya, keberadaan asrama bagi pelajar, pemuda dan mahasiswa Bula di Ambon merupakan inisiatif Pemerintah Daerah (Pemda) SBT di zaman kepemimpinan mantan Bupati Abdullah Vanath.

Industri migas dalam hal ini Citic maupun Karlez menjadi support system membantu kelanjutan biaya kontraknya sebagai bentuk kepedulian bagi pelajar, pemuda dan mahasiswa Bula di Ambon.

“Sesuai aturan, dilarang membangun sesuatu diluar daerah operasi. Maka untuk yang diluar, kita bantu demikian. Tapi selain itu, kita juga sering lakukan sosialisasi dan ngobrol bareng mahasiswa serta beragam kegiatan pemberdayaan masyarakat, sosial lainnya di Bula dan sekitarnya,” ujar Galih Agusetiawan, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan PAMALU.

Produksi, pemasokannya minyak dari Blok Bula makin menipis, dengan hanya mampu menjual dua kali dalam setahun. Sangat kecil, bila dibanding dengan industri Migas lain di Indonesia yang setiap hari menjual.

Kondisi itu, secara ekonomis, jelas sangat tidak menguntungkan dan telah ada niatan “angkat kaki”. Namun rencana itu urung dilakukan, karena SKK Migas bisa yakinkan Kalrez dan Citic.

Gayung bersambut, masyarakat, pemuda, mahasiswa Bula pun menaruh harap. Keberadaan Kalrez dan Citic terus berdampak positif di bidang sosial, kesehatan hingga pendidikan, sebelum benar-benar “angkat kaki” dari Bumi Ita Wotu Nusa. (Iwan Eipepa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed