by

Pemkot-Unika Semarang Gagas Workshop Tentang Pluralitas

AMBON,MRNews.com,- Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dan tim peneliti Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang bekerjasama menggagas lokakarya (wokshop) bertemakan memperkokoh inklusifitas pada masyarakat plural Ambon di ruang rapat lantai 2 Balaikota Ambon, Senin (27/8/18).

Kegiatan tersebut menghadirkan pimpinan SKPD dalam lingkup Pemkot Ambon, para raja/kepala desa dan saniri negeri/pemerintah desa, akademisi, perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM), maupun tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Asisten I Pemkot Ambon, Mien Tupamahu yang mewakili Walikota sebelum membuka workshop mengungkapkan, Unika Soegijapranata telah lama tertarik dengan dinamika masyarakat Kota Ambon. Dimana selama hampir enam tahun para peneliti Unika belajar dan bekerja bersama-sama para akademisi dari Unpatti, UKIM dan IAIN serta LSM Kota Ambon. Karena mereka ingin lebih banyak terlibat dalam proses belajar dan membangun Kota Ambon yang inklusif serta toleran.

Untuk itu, kata Tupamahu, dalam workshop para peneliti Unika akan memberikan ide-ide dan pemikiran mereka terkait upaya pembangunan inklusifitas di Kota Ambon. Dimana selanjutnya mendesain ruang publik berbasis kearifan lokal sebagai sarana inkulturasi budaya dan membangun inklusifitas pada masyarakat plural di Kota Ambon.

“Setelah mendapat masukan dari para peserta workshop terhadap paparan Unika yang merupakan hasil studi literatur dan studi lapangan, maka saya berharap akan semakin memperkokoh aliansi strategis untuk membangun Kota Ambon, yang diharapkan bisa mewarnai dan menyumbang upaya positif bersama pemerintah dan masyarakat Ambon menuju rekonsiliasi serta pembangunan inklusifitas dalam masyarakat yang hakiki,” jelas Tupamahu.

Pluralitas tambah Tupamahu, sesungguhnya adalah modal sosial yang akan memperkaya sebuah masyarakat termasuk masyarakat Kota Ambon. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa pluralitas yang sarat dengan perbedaan-perbedaan bisa menjadi benih-benih potensial terjadinya gesekan dan konflik di tengah masyarakat. Sehingga kesadaran untuk membangun inklusifitas dalam masyarakat plural atau majemuk sebagai keniscayaan agar masyarakat tetap utuh, bersatu dan hidup dalam harmoni. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed