by

Menjaga Kebhinekaan, Perempuan Harus Lawan Isu Hoax & SARA Jelang Pemilu

AMBON,MRNewscom,-, Perempuan harus dapat melawan isu hoax soal suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) menjelang perhelatan pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Karena itulah menunjukan posisi perempuan dalam menjaga Kebhinekaan Indonesia. Namun terpenting tentu dalam menjaga kebinekaan harus dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga.

“Zaman digitalisasi hal yang tidak boleh kita tutup mata, jangan dianggap sepele. Kita harus sadar dan lakukan tindakan nyata karena berpengaruh terhadap kebhinekaan dan meneguhkan kebangsaan.” tandas Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena saat membuka talkshow yang digagas Perempuan Progresif Indonesia Timur (Preposisi) bertema “Perempuan menjaga Kebhinekaan dan meneguhkan kebangsaan di era digital” di Aula Kantor Klasis Pulau Ambon, Jumat (3/11).

Talkshow diikuti berbagai peserta yang merupakan undangan berasal dari OKP yang tergabung dalam Cipayung, NGO, Bawaslu Kota Ambon & berbagai komunitas yang bergerak dalam mengadvokasi kepentingan Perempuan, maupun mahasiswa/i.

Ir. Maemunah Tualeka, M.Si (Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Dinas PPPA Provinsi Maluku), Dr. Revency Rugebregt, SH., MH (Dosen Fakultas Hukum Universitas Pattimura) & Nancy Purmiasa, S.Pd (Aktivis & Politisi Perempuan) hadir sebagai narasumber dalam talkshow yang dipandu Karina Rutumalessy, SH.

Sekretaris Eksekutif Preposisi, Shanty Manuhutu S.Kep.M.KM katakan, melalui forum ini pihaknya ingin membagikan semangat kepada kaum perempuan untuk menjadi penggerak, penjaga nilai-nilai kebangsaan, nilai persatuan dalam kehidupan sosial.

“Kita (baca perempuan) mempunyai tanggungjawab besar untuk kehidupan kita secara pribadi tetapi juga kesadaran kolektif kita sebagai makluk sosial, sebagai bagian pilar peradaban bangsa untuk menjaga NKRI dari Timur Indonesia,” ujar mantan pengurus pusat GMKI itu.

Secara terpisah, Natalia Mahudin SE.ME, Direktur Eksekutif dan juga founder Preposisi berharap, forum ini menjadi rumah bersama untuk memberi kesadaran bagi perempuan khususnya di Kota Ambon memulai memainkan fungsi dan peran menggaungkan semangat kabangsaaan ditengah tantangan saat ini dan khususnya menjelang pesta demokrasi Pemilu mendatang.

“Perempuan Maluku harus menjadi bagian dari proses demokrasi yang berkualitas dengan melawan sebaran hoax, tanpa perpecahan dan tantangan lainnya yang berdampak kepada stabilitas bangsa dan negara khusus Maluku itu sendiri,” tegas Mahudin.

Sementara itu, menurut Tualeka, perempuan dan isu kebhinekaan merupakan hal yang sangat urgen untuk digaungkan. Peran perempuan dalam menjaga kebhinekaan di Indonesia sudah terlihat sejak dulu. Terbukti, banyak pahlawan perempuan Indonesia yang memperjuangkan keberagaman, baik dari tindakan serta pikiran.

Purmiasa menekanlan, perempuan secara lahiriah bisa mengakomodir perbedaan, mengutamakan cara-cara damai, dan memiliki kemampuan resolusi konflik. Secara alamiah, perempuan memiliki kemampuan untuk melakukan resolusi konflik dalam keluarga.

“Perempuan memiliki naluri keibuan yang memungkinkan dirinya lebih adaptif dalam menjalankan tugas-tugas merawat kebhinekaan, menjaga keberlangsungan hidup, meredakan konflik, dan memelihara perdamaian,” terangnya.

Gerakan perempuan lanjut Purmiasa, melihat sejarah perempuan-perempuan Indonesia mampu menghadirkan model kepemimpinan yang sejuk, mengutamakan cara-cara damai, empati.

“Saat ini juga, kita mengalami dekadensi moral, pengikisan jati diri terkait merosotnya nilai-nilai keagamaan, nasionalisme, nilai sosial budaya bangsa dan perkembangan moralitas individu akibat pengaruh era digitalisasi,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.

Sejalan dengan dua koleganya, Revency menegaskan pentingnya menjaga kebhinekaan karena saat ini moral dan etika yang sudah mulai hilang, budaya mulai berubah, kebiasaan berubah, pergaulan berubah, nilai-nilai ditiadakan, pemahaman keliru, hilang dan luntur identitas diri dan nasionalisme. Disitulah dibutuhkan kehadiran perempuan.

Kebhinekaan, kebangsaan dan demokrasi ada dalam pikiran, kesadaran kritis dan sikap perilaku sehari-hari. Kesadaran dan tindakan ini kemudian dipupuk dan digerakkan menjadi kesadaran kolektif. Hal itu paling penting dimulai dari keluarga dengan mengedukasi anak-anak.

“Perempuan khususnya yang dekat dunia media digital seperti influencer dapat memberi good influencer ditengah fenomena bad influncer yang merajalela dengan menggunakan, “Kita boleh update dengan perkembangan zaman namun jangan pernah melupakan nilai-nilai kita,” pesannya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed