AMBON,MRNews.com,- Hengkangnya Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Maluku, Widya Pratiwi Murad dan sejumlah loyalisnya ke Partai Amanat Nasional (PAN) dinilai senior dan pendiri partai, Jusuf Leatemia sama sekali tak rugikan PDI Perjuangan.
Menurut Leatemia, hal itu bisa dia pastikan atas beberapa alasan. Salah satunya khusus Widya masuk PDIP karena ikut suaminya yang juga Gubernur Maluku sebagai Ketua DPD serta ingin menjadi calon legislatif (Caleg), bukan murni bertumbuh dari struktur partai terbawah.
“Widya ini kan pendatang di PDI-P. Bagaimana bisa duduk dan minta nomor urut 1 di Caleg, dia siapa di partai ini?. Suami istri ada bikin apa di partai ini? tidak ada pengaruh sama sekali bagi partai,” tandasnya saat dihubungi, Selasa (18/4).
Sebagai pendiri partai kata Leatemia, cara Widya yang sekedar “numpang lewat” dan terkesan memaksakan kehendak pimpinan tertinggi partai dinilai merusak nilai dan ideologi PDI Perjuangan.
“Kata kasarnya orang seperti ini sudah harus keluar dari PDI-P, tidak layak dipertahankan apalagi disebut kader. Bahkan suaminya yang juga Ketua DPD PDI-P pun demikian karena pasti sikap itu diambil juga ada peran dia,” jelasnya.
Dikatakan, keinginan Widya yang harus ditempatkan di nomor urut 1 Bacaleg DPR-RI tentu tidak rasional dimata DPP. Sebab andil Widya bagi partai belum ada, tidak sebesar seorang Mercy Barends, anggota DPR-RI dari PDI-P saat ini.
“Saya pun yakin sebagian besar kader PDI-P di Maluku juga tidak kenal siap Widya. Mungkin kebetulan suaminya jadi Gubernur, banyak kebijakan dilakukan lewat tangan PDI-P yang membesarkan dia. Jadi tidak ada pengaruh kalau hanya seorang Widya keluar dari PDI-P,” tukasnya.
Menurut Leatemia, kader PDI-P di Maluku yang ada di jalan pengabdian total bagi partai sebenarnya sangat banyak. Sehingga istilah usang “mati satu tumbuh seribu ” sangat tepat di kondisi PDI-P Maluku hari ini.
Dirinya tak lupa ingatkan janji Ketua DPD PDI Perjuangan Maluku, Murad Ismail yang menjamin bakal mendapat dua kursi DPR-RI di Pileg 2024 karena “Pede” ada isterinya ikut bertarung bersama Mercy dan dua Caleg laki-laki lainnya.
“Ini kan dengan kondisi sekarang tentu janji itu hanya tipu saja semua, kosong. Dan pengurus serta kader PDI-P harus tagih janji itu, kalau tidak dapat harus mundur dari pimpinan partai” ingatnya.
Ditambahkan Leatemia, sesungguhnya dengan kondisi keluarnya Widya dan para loyalis sama sekali tidak meruntuhkan kesolidan internal partai baik kader, pengurus, apalagi hadapi momen politik kedepan.
Sebab, baik Widya maupun Murad jujur diakui tidak pernah melihat kader di daerah, sekedar berjumpa dan bersilaturahmi memberikan pendidikan politik. Padahal menggunakan “kendaraan” pemerintah ke daerah-daerah tapi sebagai bagian dari partai tidak mampu melihat tanggungjawab itu.
“Orang-orang seperti ini kan datang untuk kepentingan saja, dia tidak pernah melihat partai. Selama ini apa? Rapat-rapat di DPD dan dengan DPP saja jarang ada. Hanya sekali. Bahkan rapat internal DPD saja tidak pernah, padahal soal kepentingan partai,” sesalnya.
Menurutnya, partai akan besar tergantung ketua DPD. Namun jika pilihan politiknya sudah berbeda dan tidak lagi sejalan dengan arah dan ideologi partai, maka sudah sepatutnya DPP melakukan evaluasi secara serius terhadap kepemimpinan Murad dan tindakan Widya itu.
“Sebab aturan main partai pun jelas, dalam satu keluarga apalagi suami isteri, tidak mengenal dua partai. Jika berbeda partai, maka pilihan harus ditentukan. Tetap dengan PDIP atau keluar. PDI-P tidak mengenal dua kaki, apalagi tiga kaki. Lebih baik secara terhormat mundur diri,” kunci mantan anggota DPRD itu.
Diketahui, Widya telah resmi undur diri dari pengurus DPD PDI Perjuangan Maluku dan Bacaleg DPR-RI. Isteri Gubernur Murad Ismail itu telah berkirim surat yang ditandatangani diatas meterai dengan tujuan Ketua DPD PDI Perjuangan Maluku dan tembusan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan.
Informasi yang didapat, sejumlah loyalis pun mengikuti jejak Widya itu, seperti Mustafa Kamal, Ibrahim Ruhunussa, Nita Bin Umar dan Sharon Usmany. (MR-02)











Comment