by

Pemkot Ambon Tiru Keberhasilan Sumedang Turunkan Stunting Dalam 4 Tahun

SUMEDANG,MRNews.com,- Tahun 2024 menjadi sasaran bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dibawah komando Penjabat Walikota dan Sekretaris Kota (Sekkot) untuk menurunkan angka stunting dibawah rata-rata target nasional 14 persen.

Berbagai langkah dilakukan, salah satunya
tim Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, melakukan Studi Tiru keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang, Provinsi Jawa Barat dalam upaya menurunkan stunting, Senin (20/3).

Kabupaten di Jawa Barat itu menjadi pilihan Pemkot Ambon lantaran dengan inovasi e-Simpati dan kerja kolaboratif, Stunting di Sumedang dapat ditekan signifikan dalam kurun waktu kurang dari lima tahun yakni dari 32,2 persen di tahun 2018 menjadi 8,2 persen di tahun 2022.

Delegasi Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting ke Sumedang terdiri dari beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

OPD dimaksud yakni Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Dinas Kesehatan (Dinkes), Bappeda Litbang, Dinas Pendidikan, para Camat, Lurah, Kades/Raja serta pengurus TP-PKK Kota Ambon.

Penjabat Ketua TP-PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena katakan, maksud dari Kunker yang dilakukan delegasi Kota Ambon tepatnya di Kecamatan Rancakalong dan Posyandu di lingkup kecamatan itu, adalah untuk studi tiru berkenaan dengan upaya penanganan Stunting.

Diakui, alasan dipilihnya kabupaten Sumedang sebagai lokasi tiru keberhasilan adalah karena Sumedang merupakan daerah terbaik dalam program penurunan stunting di Indonesia dengan penerapan aplikasi e-Simpati (Sistem Penerapan Stunting).

“Target yang ingin kami capai adalah penerapan pencegahan Stunting secara digital melalui aplikasi e-Simpati yang akan dihibahkan ke Pemkot Ambon,” jelas isteri Penjabat Walikota Ambon itu.

Sebabnya, studi tiru ini dilakukan sebagai upaya untuk mempelajari dan memahami implementasi serta melihat langsung penanganan di lapangan seperti apa, khususnya di Posyandu-posyandu sebagai ujung tombak dalam upaya pencegahan stunting.

Menurutnya, banyak ilmu dan pengetahuan yang diperolehdari kegiatan itu, serta dari hasil diskusi dengan kader, tenaga kesehatan, banyak masukan yang sangat bermanfaat tentunya bisa diterapkan di kota Ambon khususnya di Posyandu.

“Kader Posyandu menjadi ujung tombak dalam melakukan intervensi penanganan kasus Stunting. Maka kader posyandu-lah yang harus perhatikan juga, kader harus memiliki kemampuan pengetahuan dan skill dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting,” tandasnya.

Sementara, di kesempatan tersebut, Camat Rancakalong, Ili mengaku, dengan adanya studi tiru ini pihaknya bisa sharing dan berbagai pengalaman, atau paling tidak bisa memberikan gambaran apa yang telah dilakukan dalam upaya penurunan Stunting di Sumedang umumnya dan Rancakalong khususnya.

Dimana keberhasilan Sumedang dalam penurunan Stunting, karena dukungan para pihak diantaranya Forkopimda, TNI/Polri, Akademisi, NGO serta partisipasi masyarakat.

“Untuk menurunkan stunting memang salah satu pihak tidak bisa bekerja sendiri, butuh kerjasama, kolaborasi secara serius. Lewat suntikan program nyata, terukur dan tepat sasaran. Urung rembuk ini kuncinya, termasuk partisipasi masyarakat sangat penting,” kuncinya. (MR-02/MC)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed