AMBON,MRNews.com,- Kapolresta Ambon dan Pp Lease, Kombes (Pol) Raja Arthur Lumongga Simamora tegaskan, sebagai seorang Polisi yang menjadi pelayan dan pengayom masyarakat, harus siap menerima kritikan, masukan hingga cacian dari masyarakat, demi menjadi lebih baik.
“Saya sering bilang ke anggota, kalau jadi Polisi harus siap menjadi keset kaki ketika kami diinjak-injak, dicaci maki tetap kita welcome karena itu sudah menjadi bagian dari tugas kita sebagai pelayan masyarakat,” ujarnya.
Penegasan Kapolresta itu disampaikannya ketika menggelar “Jumat Curhat” bersama masyarakat di Jasirah Leihitu, Kapubaten Maluku Tengah (Malteng) di Musolah Al-Hakim, Polsek Leihitu, Jumat (27/1/2023).
Tokoh masyarakat adat yang hadir yakni, Raja Negeri Hitu Lama Salhana Pellu, Raja Negeri Wakal, Ahaja Suneth, Raja Negeri Morella, Fadil Sialana. Juga tokoh agama, pemuda dan masyarakat serta personil BKO Polsek Leihitu.
Raja Wakal, Ahaja Suneth menyoroti terkait keberadaan Polsek. Selain itu dirinya secara pribadi juga meminta agar dapat melakukan razia minuman keras (Miras) tradisional Sopi. Karena salah satu pemicu terjadinya masalah di kecamatan Leihitu berawal dari konsumsi Miras.
“Anggota Polsek disini harus sering lakukan Patroli pada wilayah wilayah yang memang rawan terjadi ganguan Kamtibmas,” saran Suneth.
Adapun tokoh adat Negeri Hitu Messing, Saleh Slamat berharap agar perlu dilakukan penambahan personil anggota Polsek Leihitu, karena personilnya sangat minim, serta perlu ditingkatkan pelaksanaan patroli.
Sementara salah satu staf negeri Hitu Lama, Idris Ruhunussa, mengatakan selama kejadian-kejadian ganguan Kamtibmas di Jazirah Leihitu, jika sudah terjadi konflik tindakan yang diambil harus tunggu perintah dari pimpinan baru ada tindakan.
“Raja di jazirah dalam konsep pemerintah Negeri, terdapat dua tipe kepemimpinan, ada Raja yang diakui masyarakat dan tidak. Hal ini yang jadi kendala saat terjadi Caos antar Negeri kelompok masyarakat yang tidak mengakui Raja inilah yang sering buat masalah,” ucap Ruhunussa.
Penyampaian Raja Negeri Hitu Lama, berharap agar dapat dikoordinasikan dengan Kapolda mendorong penambahan pasukan. Kendati demikian, Ia juga menyentil sebanyak apapun personil, jika tidak ada kesadaran dari masyarakat itu sendiri semuanya percuma.
“Hampir sebagian besar persoalan yang terjadi di wilayah Jazirah Leihitu berawal dari persoalan pribadi sehingga peran dari tokoh tokoh yang berada pada Negeri sangat penting dalam menyikapi permasalahan,” ujarnya.
Sedangkan kepala Pemuda Negeri Wakal, Hasan Wael, menyarankan agar ketika ada persoalan sekecil apapun dilaporkan ke Polsek, persoalan tersebut harus ditindak lanjuti, karena persoalan-persoalan besar yang terjadi ini berawal dari masalah kecil.
“Kalau ada terjadi masalah pelakunya langsung diserahkan jangan dilindungi. Masa harus korbankan orang banyak untuk perbuatan orang per orang,” keluh Wael.
Sementara Sekretaris Negeri Lima, Imran Soamena mengapresiasi anggota Polresta Ambon yang ditugaskan sebagai Babinkamtibmas di Negeri Lima atas kinerjanya yang selalu stay.
“Persoalan yang terjadi di seluruh Negeri, dimulai dari Medsos maupun Miras. Harapan kami bapak Kapolresta dapat melakukan sosialisasi, pencerahan dan penyuluhan hukum kepada anak-anak yang masih bersekolah di tingkat SD sampai SMA,” harap Imran.
Merespons semua masukan itu, Kapolresta menegaskan, konsep pengamanan suatu daerah bukan cuma tanggung jawab TNI-Polri tapi juga kewajiban semuah lapisan masyarakat untuk bersama sama menjaga Keamanan.
“Bagaimana kita bangun sistim keamanan di lingkungan Negeri, seperti Pos Siskamling, peran tokoh pemuda dalam mendidik warganya. Kemudian bagaimana kita mengedepankan unsur TNI-Polri, makanya di TNI ada unsur Bhabinsa dan di Polri ada Bhabinkamtibmas,” tukasnya.
Sehingga Babinsa dan Babinkamtibmas dapat memberi edukasi ke masyarakat, agar berhati hati dalam penggunaan sosial media. Sebab di era modern sekarang ini kekuatan media sosial sangatlah kuat untuk menggerakan masyarakat.
“Seberapa banyak kasus yang kita ungkap tetap saja lebih banyak kasus juga yang kita terima. Karena itu peran dan kinerja Bhabinkamtibmas harus maksimal. Agar masalah yang bisa diselesaikan di Negeri dapat langsung diselesaikan tidak perlu dibawa lagi ke Polsek,” pesan Arthur.
Ditegaskan, peran orang tua kepada anak juga sudah mulai turun, rusaknya anak-anak saat ini disebabkan karena pergaulan.
“Harapan kami dilingkungan kita harus buat tatanan masyarakat yang tertata rapi beserta perannya. Percaya saya bukan sebagai Kapolresta tapi sebagai unsur Polrestanya biarkan masalah ini saya yang ambil alih, setiap proses penyelidikan terkait permasalahan akan kami laporkan,” ujarnya.
Penegasan Kapolresta ini menyinggung soal penanganan hukum pelaku penganiyaan salah satu warga beberapa waktu lalu yang berujung masyarakat Wakal dan Hitu sempat tegang.
[29/1 23.29] My Phone Oppo: Olehhnya, diharapkan agar Upulatu (Raja) maupun tokoh masyarakat yang masih melindungi, menyimpan agar dapat dilaporkan guna proses tindak lanjut kepada para pelaku secara cepat dan terukur.
“Jangan melindungi 1 orang dan mengorbankan banyak orang. Mari kita rubah Image, Maluku bukan sebagai Negeri konflik lagi tapi menjadi Negeri yang nyaman dan Harmonis,” harapnya.
Evaluasi untuk Bhabinkamtibmas, agar diserahkan ke Negeri Binaan. Saat ini, Bhabinkamtibmas telah dibuat program 5.1 (Lima hari kerja satu hari di kantor).
“Kenapa begitu, karena kewajiban Bhabinkamtibmas untuk setiap minggu membuat laporan untuk dipertanggung jawabkan. Saya perintahkan untuk para Kapolsek wajib hadir di sekolah, karena anak sekolah selalu menjadi bibit-bibit kenakalan remaja,” kuncinya. (MR-02)











Comment