by

Gubernur Murad “Abstain” Saat Forkopimda Bicara Penyelesaian Konflik Kariu-Pelauw

AMBON,MRNews.com,- Gubernur Maluku Murad Ismail tidak hadir alias abstain dalam rapat forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) Maluku yang masih saja membicarakan evaluasi penyelesaian konflik antara Pelauw-Kariu di kantor Gubernur, Rabu (10/8).

Padahal Gubernur yang adalah “Koordinator atau Ketua” Forkopimda, di pagi hari sebelum agenda rapat, ada menghadiri kegiatan jalan santai di SMA Negeri 2 Ambon, sekolah asal sang mantan Dankor Brimob Polri itu.

Sebagai gantinya, Murad mengutus Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku Sadali Ie memimpin pertemuan yang dihadiri seluruh Forkopimda Maluku dan Kabupaten Maluku Tengah.

“Pa Gubernur tidak hadir, sakit kayanya. Pa Sekda yang ganti pimpin rapat dengan Forkopimda,” ujar salah satu pegawai kantor Gubernur.

Rapat membahas masalah evaluasi penanganan konflik Kariu-Pelauw tuntas kurang lebih 4 jam.

Usai rapat, Penjabat Sekda katakan, hasil evaluasinya, ada langkah-langkah maju yang mengarah kepada penyelesaian penanganan konflik Kariu-Pelauw, termasuk soal pemulangan pengungsi Kariu.

“Kita harap insan pers dan seluruh masyarakat Maluku berdoa agar persoalan ini segera kita selesaikan, dan pengungsi Kariu bisa kembali ke tempat tinggalnya,” tandas Sadali.

“Agar semua persoalan bisa jalan secara damai, kita hidup berdampingan satu dengan yang lain sebagai wujud katong samua basudara, ale rasa Beta rasa, sagu salempeng dibagi dua,” sambungnya.

Rekonsiliasi masih akan bergerak baik dari pemerintah Kabupaten, provinsi dan TNI/POLRI mencari solusi terbaik. Dimana sudah ada respons dan itikad baik dari pemerintah desa Pelauw agar rekonsiliasi bisa jalan.

“Ini nanti lagi kita pendekatan dengan Kariu. Pokoknya evaluasi kita ini ada langkah-langkah yang mengarah ke persoalan penanganan konflik disana bisa berjalan secara baik,” jelasnya.

Akan tetapi saat disinggung soal pemerintah provinsi bisa pastikan kapan bisa pulangkan warga Kariu dari pengungsian ke tempat asalnya, Sadali tidak “berani” memberi garansi.

“Pengembalian itu (pengungsi) tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab kita mengembalikan untuk tidak menjadi konflik lagi, persoalan selesai. Kan kalian (pers) berharap begitu juga. Makanya semua lagi bergerak. Hasil evaluasi ini yang tadi kita bicarakan lagi untuk kita lakukan langkah-langkah,” kuncinya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed