AMBON,MRNews.com,- Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Ambon abstain atau tidak mengutus anggotanya bersama Pemerintah Kota (Pemkot) dan sejumlah anggota DPRD Kota Ambon melakukan kunjungan dan monitoring ke Jepang. Mereka berpandangan, kunjungan tersebut tidak bermanfaat atau substansial bagi kepentingan pembangunan dan masyarakat kota Ambon serta hanya menghambur-hamburkan uang karena tim yang pergi terlalu banyak.
“Bagi kami kunjungan ke Jepang tidak substansial. Karena untuk kepentingan masyarakat banyak tidak ada dampaknya. Pasalnya, Pemkot menyekolahkan anak-anak disana dengan asumsi selesainya harus kembali mengabdi ke daerah. Jadi pertanyaan, apakah disiplin ilmu mereka itu nanti dapat dipakai bagi kepentingan kota Ambon. Karena Ambon bukan kota industri tapi kota jasa, pendidikan. Sehingga dengan pertimbangan dan atas perintah rapat pleno partai, tidak mengutus anggota fraksi ikut kunjungan ke Jepang,” tandas penasehat fraksi Gerindra yang juga pimpinan DPRD, Rustam Latupono kepada media di Balai Rakyat Belakang Soya, Kamis (15/3).
Apalagi, kata Latupono soal Jepang ini dianggap selesai. Karena saat pembahasan dengan Walikota terkait program, kegiatan study and work in Japan sudah disetujui anggaran 1,9 Miliar pada tahun 2018. Itu berarti bagi Gerindra, seluruh program, kegiatan menyangkut hal-hal tersebut dianggap tuntas. Apalagi penjelasan Sekkot, anggaran tersebut untuk membayar biaya-biaya studi mahasiswa yang belum diselesaikan dan disepakati sehingga dianggap tidak ada masalah lagi.
Secara kelembagaan, diakui Latupono, DPRD sudah setujui anggaran penyelesaian studi mahasiswa di Jepang. Berbeda, kalau kepergian mereka untuk kepentingan pembangunan pendidikan atau infrastruktur yang ada hibah bantuan dari pemerintah Jepang bagi pembangunan kota kota Ambon, itu paling penting dan bila perlu mendorong semua anggota DPRD kawal. Tapi kalau hanya pergi dan saksikan penandatanganan MoU, mubazir karena hamburkan uang.
“Lebih baik anggaran perjalanan itu dialihkan bagi kepentingan masyarakat yang lebih bermanfaat,” singkatnya.
Baginya, kalau fraksi lain setujui, tidak masalah. Sementara Gerindra tetap bersikukuh. Lagipula kunjungan itu bukan agenda DPRD, tetapi Pemkot. Sehingga mestinya, DPRD diwakili pimpinan dan ketua komisi II saja, bukan semua anggota komisi termasuk ada keterwakilan komisi I dan III, karena hanya monitoring. Apalagi kondisi keuangan kota Ambon minim. Dimana banyak persoalan infrastruktur yang belum diselesaikan.
“Saya tidak mengerti kenapa banyak ikut dan keterwakilan komisi I dan III juga. Padahal kesana hanya melihat penandatanganan MoU dengan mahasiswa atau calon mahasiswa. Sehingga tidak substansial dan berbondong-bondong menghabiskan ratusan juta. Saya kira kerjasama dengan pemerintah Jepang. Nanti juga perlu dipertanyakan, kenapa melibatkan komisi I dan III. Karena pimpinan pun tidak diberitahu dan teman-teman komisi II sebelumnya pun tidak tahu maksud kunjungan ke Jepang,” paparnya.
Ditanya wartawan apakah hanya ke Jepang yang dilarang anggota fraksinya ikut sementara perjalanan dirinya tempo hari bersama Walikota Ambon ke Amerika tidak, Latupono berkelit bahwa Gerindra melihat substansi kunjungan ke Amerika penting untuk promosi potensi kota Ambon. Sebaliknya, kalau untuk hal yang tidak terlalu penting bagi kota dan masyarakat, Gerindra menolak ikut.
“Saya kemarin ke Amerika karena penting untuk promosi kota Ambon. Salah satunya kedepan ada pameran yang dinamakan Indonesian Night, dimana dari daerah-daerah potensinya akan dipromosikan ke Amerika. Sehingga pastinya menguntungkan segi investasi kedepan, apalagi menuju kota ikan dan city of music. Bukan alasan melarang anggota fraksi pergi dan pimpinan dibolehkan. Bagi beta, tergantung substansi penting tidaknya kunjungan. Jikalau posisinya tim monitoring, tidak harus melibatkan semua, cukuplah perwakilan,” tutup sekretaris DPC Gerindra kota Ambon itu. (MR-05)











Comment