AMBON,MRNews.com,- Lomba musikalisasi puisi tahun 2019 yang dilaksanakan kantor Bahasa provinsi Maluku seyogyanya mendapat apresiasi dari pemerintah dan masyarakat kota Ambon, karena dipandang sebagai bagian dari pelestarian identitas masyarakat dan ekspresi kemampuan seni di kalangan generasi muda yang bermuara pada pengembangan Ambon menuju kota musik dunia sebagaimana cita-cita bersama.
Karenanya, diharapkan kegiatan ini dapat menggugah kecintaan semua komponen masyarakat terutama generasi muda terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Pasalnya generasi muda sering menganaktirikan bahasa Indonesia yang biasa dikatakan sebagai bahasa kurang gaul atau kurang keren. Padahal, bahasa Indonesia merupakan satu peninggalan leluhur bangsa Indonesia yang hingga saat ini telah menjadi bahasa pemersatu seluruh elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke.
“Bahkan di masa penjajahan, bahasa Indonesia bukan sebagai alat komunikasi semata, melainkan senjata untuk membangkitkan semangat juang para pahlawan dari seluruh penjuru tanah air. Sebab itu, bahasa Indonesia harus terus kita junjung tinggi, sebagai bagian dari semangat nasionalisme dan cinta tanah air. Wujudnya dengan lomba musikalisasi puisi ini, kolaborasi musik, puisi dan bahasa Indonesia jadi satu kesatuan,” ujar sekretaris kota Ambon A.G. Latuheru saat membuka kegiatan itu di Gedung Teater Taman Budaya Karang Panjang, Sabtu (24/8/19).
Selama beberapa tahun terkahir lomba musikalisasi puisi diakui Latuheru telah mendapat sambutan dan apresiasi luar biasa, karena para peserta menampilkan karya-karya musikalisasi puisi yang terbaik. Maka diharapkan tahun ini, dari segi kualitas dan kuantitas harus lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya. Apalagi pertumbuhan musikalisasi puisi berkaitan erat dengan sejarah perkembangan sastra dan musik itu sendiri. Sejak awal pertumbuhannya, sastra dan musik memang saling terkait.
Seperti diketahui, munculnya kesenian berawal dari kepentingan ritual dalam upacara-upacara yang dilakukan masyarakat tradisional. Segala aspek yang kini disebut seni, seperti sastra/mantra, musik, nyanyian, dan tarian, merupakan satu kesatuan yang saling mengisi tanpa ada kategorisasi. Dalam perkembangan selanjutnya, terwujudlah kesenian-kesenian rakyat dan tradisi sastra lisan. Syair-syair, serta cerita-cerita, didalam tradisi lama kerap disampaikan dan dibawakan dengan iringan musik dan/atau dibawakan dalam lantunan tembang.
“Para seniman opera kemudian menyusun syair-syair baru dan aransemen musiknya. Mereka memiliki prinsip berbeda – beda. Ada yang mengompromikan deklamasi dan nyanyi, ada yang berprinsip musik harus mengabdi pada kata-kata dan bukan menguasainya. Ada pula yang berkehendak mengungkapkan makna kata melalui musik. Pengungkapan makna dalam musik ini bukan hanya pada musik vokal, melainkan juga pada musik instrumental. Dalam perkembangan sastra modern kita, upaya memadukan musik dengan puisi ini terus berkembang hingga mencapai bentuk yang sekarang, yang kemudian dikenal dengan nama musikalisasi puisi,” cerita Latuheru.
Bagi orang Maluku khusus kota Ambon musik tentunya diakui Latuheru bukan hal asing lagi. Sebab sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan yang diberikan, mengalir sejak dalam kandungan dan menjadi kekuatan inheren dalam jiwa dan karakter orang Ambon. Spirit musik yang tumbuh dan berkembang secara alami itulah, kemudian mendorong pemerintah untuk menjadikan musik sebagai identitas masyarakat sekaligus salah satu pilar ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Program Ambon city of music telah menjadi branding kota Ambon yang diakui di tingkat nasional, sebagai salah satu dari top 45 inovasi pelayanan publik. Dan selanjutnya di tingkat dunia, Ambon city of music akan segera mendapatkan pengakuan dari UNESCO di tahun ini. Tanpa kita sadari, musik yang dulunya hanya kita mainkan sekedar sebagai hobi, kini telah mengangkat harkat dan martabat kota di mata dunia, duduk sejajar dengan kota – kota yang masuk dalam jaringan kota kreatif lainnya,” tutupnya. (MR-02)









Comment